Sabtu, 07 Januari 2012

INFORMASI UJIAN NASIONAL 2012

Tidak terasa Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2011-2012 sudah dekat, merupakan tugas dan tanggung jawab yang berat bagi rekan-rekan guru yang mengajar Kelas IX jenjang SMP. Mudah-mudahan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2011-2012 lebih baik dari yang sebelummya. Sebenarnya kalau kita mau membedah dan mamahami apa yang terkandung di dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) atau Kisi-Kisi Ujian Nasional yang diterbitkan oleh BSNP, maka tidak ada materi Ujian Nasional yang menyulitkan, tinggal bagaimana cara para guru menyiapkan para peserta didiknya.

Dengan pedoman SKL/kisi-kisi ini para guru disekolah diharapkan sudah membimbing dan mengarahkan siswa untuk berlatih soal sesuai dengan SKL/kisi-kisi.

Berikut ini adalah Jadwal Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2011/2012
No JENJANG PENDIDIKAN WAKTU PELAKSANAAN UN PENENTUAN KELULUSAN
UTAMA SUSULAN
1 SMA/MA dan SMK 16 – 19 April 2012 23 – 26 April 2012 24 Mei 2012
2 SMP/MTs dan SMPLB 23 – 26 April 2012 30 April – 4 Mei 2012 2 Juni 2012
3 SD/MI DAN SDLB 7 – 9 Mei 2012 14 – 16 Mei 2912 Kewenangan Provinsi

Untuk mempermudah rekan guru dan orang tua/wali siswa yang ingin mendownload kisi-kisi dan kriteria kelulusan berikut ini kami berikan link untuk mendownload. Atau mengunjungi langsung situs Dinas Pendidikan dan Kebudayan Propinsi Jawa Tengah di http://www.pdkjateng.go.id

Tetapi dari hasil pantauan terakhir link downloadnya sudah tidak bisa digunakan karena overload.

Silahkan klik link alternatif download yang sudah saya sediakan :


1. STANDARD KOMPETENSI LULUSAN (SKL)/KISI-KISI UNTUK SMP DAN MTs KLIK DISINI.

2. PROSEDUR OPERASI STANDAR UJIAN NASIONAL KLIK DISINI.

3. TANYA JAWAB TENTANG UJIAN NASIONAL KLIK DISINI.

4. PERMEN NO. 59 TAHUN 2011 TENTANG KRITERIA KELULUSAN KLIK DISINI.

5. PRESENTASI SOSIALISASI UN 2012 KLIK DISINI.


Selamat berjuang… Rekan Guru… Orang Tua… dan Para Peserta Didik....

BELAJAR....

JUJUR……

PERCAYA DIRI…..

TEKUN….

DISIPLIN….

PANTANGMENYERAH….

KONSENTRASI.....

adalah modal untuk suksesnya Ujian Nasional.


Apabila ada link download yang rusak atau tidak dapat diakses mohon beri komentar dibawah... Terima kasih.


Tags : Ujian, Ujian Nasional, Kisi-kisi Ujian Nasional, POS Ujian Nasional, Tanya Jawab Ujian Nasional, Prediksi Ujian Nasional.

Jumat, 25 November 2011

HARI KE-2 WORKSHOP GURU PEMANDU

Catatan hari kedua Workshop Guru Pemandu...

Sesuai jadwal hari kedua adalah materi tentang Evaluasi Perangkat Belajar Mengajar yang akan disampaikan oleh Drs. Yoyo Dwojatmiko, SH. Sesuai kesanggupan narasumber bahwa di hari kedua beliau bisa mengisi setelah sebelumnya tidak bisa mengisi di hari pertama... Hari Sabtu saya mencoba menghubungi beliau tetapi no hp yang saya hubungi selalu tidak bisa terhubung... sampai hari minggu sama saja.. Senin pagi sebelum berangkat saya sempatkan untuk sowan ke rumah ternyata tidak di rumah juga. Langsung meluncur ke dinas pendidikan kabupaten Banyumas ke ruang pengawas juga tidak ada informasi ternyata beliau masih di Semarang. Setelah mencari nomor telepon yang benar saya hubungi beliau ternyata memang masih di Semarang sehingga tidak bisa mengisi untuk hari kedua. Eh... lagi asik ngebel sama beliau pulsa hp saya habis... maaf pak Yoyo ... nanti saya konfirmasi ulang... (pulsa habis kebanyakan untuk kepentingan MGMP... jan pengorbanan banget ya dadi pengurus MGMP..)
Setelah koordinasi dengan ketua panitia diputuskan untuk jam pak Yoyo diganti dengan belajar Mandiri setelah sebelumnya dipandu oleh Ibu Sulistyaningsih, M.Pd. Materinya antara lain diskusi tentang Replikasi MGMP BERMUTU yang pada akhirnya menghasilkan keputusan untuk semua klaster menyusun Rencana Tindak Lanjut yand didasarkan dari TNA masing-masing anggota klaster.
Sesi selanjutnya adalah lanjutan penjelasan tentang penyusunan Penelitian Tindakan Kelas yang disampaikan oleh Bapak Bangun Sukono, M.Pd. dai jam 11.00 - 16.00
Dimulai dari pembahasan tugas penyusunan BAB I kemudian penjelasan tentang penyusunan BAB II, III, IV dan Daftar Pustaka. Untuk file materi pak bangun masih sama dengan yang disampaikan pada minggu sebelumnya sedikit ditambah 1 file tentan contoh PTK dari pak Bangun. Untuk link file silahkan dibuka pada halaman Workshop hari pertama.

Untuk hari ketiga sebelumnya sudah diinformasikan untuk kegiatan ICT tetapi setelah dikonfirmasi dengan Narasumber, beliau Bapak Sujiranto berhalangan sehingga panitia harus pusing lagi untuk mencari pengganti... Untung sahabat lama berkenan membantu... ucapan terima kasih yang tidak terhingga saya sampaikan kepada Bapak Herry Sugiyanto, M.Pd. yang telah berkenan mengisi materi tentang Lesson Study dan Case Study.

Tulisan ini juga sebagai PENGUMUMAN kepada seluruh peserta workshop bahwa hari ketiga besok materinya adalah Lesson Study dan Case Study... sehingga yang keberatan membawa laptop boleh tidak membawa... dibawa nanti hari Senin, 12 Desember 2011 untuk workshop hari terakhir. Terima kasih...

Selasa, 15 November 2011

Workshop Guru Pemandu dan Ketua Klaster

Peningkatan profesionalisme guru melalui MGMP menjadi tanggung jawab guru, kepala sekolah dan Dinas Pendidikan Kabupaten sebagai mitra kerja, sehingga guru mampu memiliki kompetensi yang dipersyaratkan. Kompetensi tersebut adalah kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan kompetensi profesional.

Salah satu persoalan kualitas guru adalah masih ditemukan guru yang rendah pemahamannya terhadap karakteristik Pembelajaran yang Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM). Menyoroti tentang sumber daya yang belum profesional, dalam pelaksanaan pendidikan khususnya di sekolah, guru merupakan pelaku pendidikan praktis di kelas. Sangatlah besar pengaruh guru terhadap keberhasilan konsep-konsep pembaharuan dalam bidang pembelajaran. Berbagai sikap guru dapat dilihat dalam pelaksanaan perubahan, diantaranya proaktif, reaktif, bahkan ada pula yang apatis. Perilaku guru yang diharapkan adalah guru proactive dalam implementasi perkembangan teknologi dalam tataran teknik, metodologi, strategi, dan pendekatan dalam pembelajaran.

Mengantisipasi hal itu, MGMP PKn SMP Kabupaten Banyumas bekerja sama dengan Dinas Pendidikan berencana mengadakan program Replikasi MGMP BERMUTU (Better Education Throught Reformed Management and Universal Teacher Upgrading). Agar guru sebagai pelaku yang ada di sekolah dapat mengikuti kegiatan pelatihan dan tidak meninggalkan tugas pokoknya, maka yang mengikiuti pelatihan awal untuk kegiatan Cluster adalah Ketua Cluster dan dua orang guru Pemandu, dengan harapan mendapatkan personil yang akan bertugas langsung mendampingi dan memfasilitasi Replikasi MGMP Bermutu agar dapat optimal dalam implementasinya.

Workshop Guru Pemandu Cluster Replikasi MGMP Bermutu mata pelajaran PKn tingkat kabupaten Banyumas ini dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

Hari/Tanggal : Senin, 14, 21 dan 28 November dan 12 Desember 2011

Waktu : Pukul 07.00 – 16.30 WIB

Tempat : SMP Negeri 5 Purwokerto

Untuk hasilnya akan diupdate setiap pekannya.

Berikut adalah resume pelaksanaan worshop hari pertama :

Pelaksanaan hari pertama sedikit berbeda dengan rencana awal karena salah satu nara sumber berhalangan karena beliau Bapak Drs. Yoyo Dwijatmiko diberi tugas oleh LPMP Jawa Tengah untuk mengisi di suatu acara.

Pembukaan yang sedianya akan dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas tetapi karena ada acara lain kemudian diwakilkan kepada Pengawas Sekolah Bapak Sutarno, M.Pd. Dalam kesempatan pembukaan tersebut disampaikan beberapa hal tentang pentingnya pelaksanaan MGMP yang ditahun ini untuk mata pelajaran non UN diganti nama menjadi Replikasi MGMP BERMUTU (dalam hati saya Replikasi konotasinya negatif asumsi saya contoh HP Replikasi adalah HP tiruan asli yang mutunya jauh lebih rendah "apakah seperti itu mapel non UN"???)

Setelah pembukaan dilanjutkan sesi yang pertama oleh Ibu Sulistyaningsih, M.Pd. tentan PKB dan PKG. Beliau adalah salah satu assesor penilaian angka kredit kabupaten Banyumas sekaligus pembina MGMP PKn SMP Kabupaten Banyumas. Dalam kesempatan itu disampaikan bahwa PKG dan PKB nantinya akan diberlakukan mulai tahun 2013. Kepada semua guru disampaikan agar tidak menjadi beban tetapi disikapi dengan cara yang arif dan bijaksana.

Sesi kedua disampaikan oleh Bapak Bangun Sukono, M.Pd. yang mengisi materi tentan Penelitian Tindakan Kelas.


Untuk materi bisa didownload pada link berikut :

Materi Bu Sulis : PKB dab PKG

Materi Pak Bangun : Penelitian Tindakan Kelas.


Rabu, 31 Agustus 2011

SELAMAT IDUL FITRI


SEGENAP PENGURUS
MGMP PKn SMP KABUPATEN BANYUMAS

Mengucapkan :

SELAMAT IDUL FITRI 1432 H.
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN


Jumat, 03 Juni 2011

4.823 Siswa SMP di Jateng Tak Lulus UN

Sharing Post from Tempointeraktif.com

Dari 505.574 siswa Sekolah Menengah Pertama atau setingkatnya di Jawa Tengah yang mengikuti ujian nasional tahun ini, sebanyak 4.823 di antaranya dinyatakan tak lulus ujian nasional.
Peserta ujian nasional tingkat SMP di Jawa Tengah yang dinyatakan lulus sebanyak 500.751 siswa.

"Tingkat kelulusan ujian nasional tingkat SMP di Jateng tahun ini mencapai 99,046 persen," kata Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah Kunto Nugroho, saat ditemui di kantornya, Kamis 2 Juni 2011.

Kunto menyatakan, persentase kelulusan ujian nasional SMP di Jateng tahun ajaran 2010/2011 mengalami kenaikan sebesar 0,059 persen dibandingkan tahun 2009/2010 yang sebesar 98,987 persen.

Peserta UN SMP tahun ini 384.210 siswa, dan yang lulus sebanyak 380.991 siswa (99,162 persen) dan yang tak lulus sebanyak 3.219 siswa.

Untuk siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) dari 116.018 siswa, lulus 115.499 siswa (99,553 persen) dan yang tak lulus sebanyak 519 siswa. SMP Terbuka dari 5.165 siswa yang lulus 4.080 siswa (78,99 persen), tak lulus 1.085 siswa dan SMP Luar biasa dari 181 siswa lulus semua atau 100 persen.
Kunto menyatakan tahun ini ada lima sekolah yang semua siswanya tak lulus.

"Kelimanya adalah sekolah SMP Terbuka semuanya," kata dia. Yakni satu sekolah di Kendal, satu sekolah di Kebumen, dan tiga sekolah di Temanggung. “Untuk SMP umum tak ada yang sampai siswanya tak lulus semua.”

Kamis, 12 Mei 2011

PENDIDIKAN KETELADANAN

Setiap orang (keluarga) selalu mengharapkan keluarganya menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Keluarga yang di dalamnya ada figur keteladanan dari ayah dan ibu. Mampu memimpin keluarga kecil bahagia sejahtera dengan penuh kasih sayang, karena didalamnya telah ditanamkan pendidikan keteladanan.


Pendidikan keteladanan di mulai dari keluarga dan diajarkan pula di sekolah. Anak sudah harus diarahkan untuk mengikuti hal-hal baik yang dilakukan oleh para orang dewasa agar mereka mendapatkan contoh konkrit dari apa yang dilihatnya.


Seorang anak adalah mesin foto copy yang canggih, apapun yang diperbuat oleh bapak dan ibunya maupun lingkungan keluarga akan dicontoh oleh si anak,. Tinggal sekarang kemana si anak akan diarahkan? Oleh karena itu bijaklah dalam berbicara maupun bertindak. Ingatlah dalam keluarga ada yang sedang menjiplak anda.


Pendidikan anak diawali dari rumah. Oleh karenanya semakin besar anak, sebagai orang tua harus semakin berhati-hati bertingkah laku & berkata-kata, takut anak meniru yang buruk. Anak-anak adalah peniru yang baik.


Pendidikan keteladanan sebenarnya ada dalam rumah-rumah kita. Dia bersemayam dalam hati kita masing-masing, karena pada hakekatnya keteladanan muncul dari dalam diri.


Hal itu terlihat dari bagaimana seorang ayah yang melindungi anak-anaknya dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa. Bagaimana seorang ibu yang menyayangi anak-anaknya dengan penuh kasih sayang dan belaian lembut seorang ibu. Semua itu mereka lakukan demi keberlangsungan hidup anak-anaknya.


Ketika ayah dan ibu tak lagi menjadi teladan bagi anak-anaknya. Ketika seorang kakak tak memberikan teladan kepada adiknya, dan ketika yang tua tak memberikan teladan kepada yang muda. Apa yang terjadi?


Kita tentu akan melihat bahwa budi pekerti telah hilang dari dalam diri.


Mereka yang muda tentu akan mengikuti gaya orang tuanya. Bila orang tuanya baik, maka anak pun akan cenderung baik. Ketika orang tuanya jahat, maka anak pun akan berkecenderungan jahat pula. Lingkungan sangat membentuk kepribadian anak.


Pendidikan keteladanan harus dimulai dari keluarga. Para orang tua harus dapat memberikan keteladanan kepada anak-anaknya.


Ketika orang tua mengajak anaknya untuk beribadah, maka orang tuanya itu harus memberikan keteladanan lebih dulu. Jangan sekali-kali mengajak anak untuk beribadah, ketika orang tua tak melakukannya. Sebab bila itu terjadi anak akan protes dan cenderuang memaki dan mengumpat.


Bisa saja keluar kalimat, “ayah saja tidak sholat, dan ibu saja tidak mengaji”.


Pada akhirnya anak melihat kelakuan buruk orang tuanya. Anak akan cepat meniru apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Keteladanan positif pun tak terjadi.


Menjadi orang tua ideal perlu ilmu. Menjadi guru ideal juga perlu ilmu. jJka orang tua dan guru mengamalkan ilmunya dengan benar, saya yakin keteladanan bisa diberikan pada anak.


Sayangnya, banyak suami istri tidak mencari ilmu mendidik anak karena sibuk dengan urusan pemenuhan kebutuhan keluarga. Mereka mengandalkan guru di sekolah untuk mendidik anaknya. Namun, ternyata guru telanjur dipusingkan dengan urusan administrasi sekolah dan urusan keluarga. Mereka hanya sempat mentransfer materi pelajaran tapi lupa menanamkan keteladanan. Kalau sudah begitu, semoga kita tidak termasuk golongan orang yang merugi.


Pendidikan keteladanan harus dipupuk dari anak masih usia dini. Tentu memori otaknya akan menyimpan semua hal baik yang dilihatnya. Tetapi bila kita sebagai orang tua tak memberikan keteladanan, maka jangan salahkan bila anak kita berkelakukan kurang ajar.

Dalam dunia persekolahan kita, pendidikan keteladanan harus diberikan guru kepada anak didiknya. Menyatu dalam kurikulum yang bernama pendidikan karakter. atau watak Di sinilah fungsi mendidik itu diperkukan. Para peserta didik diajarkan bagaimana mencontoh hal-hal baik yang ada dalam kehidupannya sehari-hari.


Banyak orang tua lupa bahwa mereka itu guru pertama bagi anaknya. Keluarga itu adalah sekolah pertama anak. Merah, putih, dan hitamnya anak tergantung pada orang tuanya. Sayangnya, urusan mendidik anak dianggap sebagian orang tua hanyalah urusan guru di sekolah.


Saya kira, pendidikan keteladanan akan berjalan dengan baik dalam dunia pendidikan bila kita sebagai orang tua, guru, dan dosen mampu memberikan keteladanan kepada anak-anaknya. Tak perlu ini dan itu dalam memberikan keteladanan, karena keteladanan itu sederhana. Sangat sederhana.


Tetapi kenapa di antara kita sering tak melakukannya???


Kamis, 05 Mei 2011

MENJADI SEORANG GURU...

Jadi, hmmm…Guru … Apa yang ada di pikiran kita saat membayangkan profesi ini ? Profesi paling mulia di muka bumi ? The mother of all professions ? Anak tiri pemerintah ? Pahlawan tanpa tanda jasa? Pahlawan yang sudah mulai diakui kehadirannya? Penuturan di bawah ini mungkin bisa membantu kita memaknai profesi guru….
Apa yang sesungguhnya bisa dilakukan seorang guru?
Loretta adalah guru lulusan sebuah universitas di Amerika Serikat. Dalam suatu kesempatan Eko, sepupunya yang bekerja sebagai Chief Executive Officer di sebuah perusahaan multi nasional, mengajukan pertanyaan,”Apa sih sesungguhnya yang dilakukan seorang guru? Kok, kamu akhirnya jadi guru? Capek-capek kuliah, lembur buat tugas ratusan kali, kedinginan, jauh dari keluarga dan akhirnya jadi guru? Kata pepatah, ‘Those who can, do. Those who can’t, teach’.
Loretta menanggapi pertanyaan itu setelah berpikir sejenak….
“Kamu mau tahu apa yang saya perbuat?
Saya membuat anak-anak bisa belajar lebih keras dari yang mereka kira dan dari yang orang tua mereka sangka.
Saya membuat mereka bisa duduk selama 40 menit kendati orang tua tak mampu membuat mereka duduk tenang selama 10 menit tanpa bantuan Ipod, DVD player, MP 3 player atau video game.
Saya membuat nilai 6 di tangan mereka serasa seperti piala di tangan Susi Susanti ketika ia menjuarai Olimpiade.
Kamu mau tahu apa yang saya perbuat?
Saya membuat mereka takjub.
Saya membuat mereka berpikir.
Saya membuat mereka bertanya.
Saya memberi mereka pujian sehingga rasa percaya diri meningkat.
Saya mengajak mereka menyanyi di acara sekolah sehingga mereka berani tampil di depan umum.
Saya mengajarkan mereka untuk minta maaf seusai mereka melakukan kesalahan.
Saya mengajarkan mereka agar menghormati semua orang termasuk petugas kebersihan di sekolah serta penjaga kantin.
Saya mengajarkan mereka untuk bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat.
Saya meminta mereka untuk menanggung konsekuensi dari pelanggaran yang mereka lakukan.
Kamu mau tahu apa yang saya perbuat?
Saya mengajar mereka membaca, menulis dan berhitung sehingga mereka tak mudah ditipu.
Saya menyuruh mereka untuk membaca, membaca dan membaca.
Saya meminta mereka berdiskusi dan mempertahankan pendapat jika mereka bisa menopangnya dengan alasan yang kuat.
Saya meminta mereka untuk memahami pandangan temannya dan tetap menaruh rasa hormat walau mereka tak setuju saat berdiskusi.
Saya meminta mereka untuk menghargai perbedaan.
Saya meminta mereka untuk mengakui kesalahan jika terbukti mereka salah.
Saya membawa mereka ke museum.
Saya meminta mereka untuk menyanyikan Indonesia Raya dengan khidmat saat upacara bendera.
Saya meminta mereka tunduk, mengenang jasa pahlawan saat Lagu Syukur dikumandangkan.
Saya mengajarkan mereka untuk menghargai pahlawan.
Lebih dari semuanya, saya membuat mereka paham betul, bahwa jika mereka melakukan sesuatu dengan segala yang mereka miliki dan dengan semua potensi yang ada, pasti mereka akan berhasil.
Saya menyuntikkan semangat ke dalam tubuh mereka.
Saya memberikan mereka inspirasi.
Saya menyebarkan optimisme dan cinta kasih.
Guru memang tidak punya uang sebanyak pengusaha, apalagi CEO kayak kamu. Hmmm….I do not make money, I make a difference…Eko, what do you make?
Jadi, untuk yang terakhir kali, apa yang melekat di benak saat kita mendengar kata ‘guru’ ? apa sesungguhnya ‘menjadi guru’ itu ? Sindhunata, Pemimpin Redaksi majalah bulanan Basis, dalam sebuah tulisannya pernah mencoba menggugah kita untuk merenungkan apa makna pendidikan sesungguhnya (2001:3).
“…betapa pendidikan kita telah banyak menyeleweng dari tugasnya yang paling dasariah, yakni membantu anak didik menjadi manusia yang bebas dan merdeka. Pendidikan perlu membuat manusia terkejut, mengapa ia begitu tertutup, padahal kesadarannya menuntut, hanya bila mau terbuka maka ia akan bahagia. Pendidikan juga perlu membuat manusia kaget, mengapa ia begitu takut, padahal kesadarannya menuntut, agar ia berani untuk memperjuangkan hidupnya. Pendidikan juga harus membuat ia benci terhadap dirinya, mengapa ia membenci dan menindas orang lain, padahal kesadarannya menuntut bahwa hanya dengan saling mencintai dan hormat satu sama lain, ia akan menjadi manusia bahagia dalam masyarakatnya”.
Marilah kita memaknai profesi guru dengan merenungkan pernyataan mengenai arti pendidikan yang dilontarkan Sindhunata di atas.
Selamat berpikir......