Jumat, 29 April 2011

PEMBELAJARAN SEBAGAI PROSES KOMUNIKASI

Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang melibatkan seseorang dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai positif dengan memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar. Pembelajaran dapat melibatkan dua pihak yaitu siswa sebagai pembelajar dan guru sebagai fasilitator. Yang terpenting dalam kegiatan pembelajaran adalah terjadinya proses belajar (learning process). Sebab sesuatu dikatakan hasil belajar kalau memenuhi beberapa ciri berikut : (1) belajar sifatnya disadari, dalam hal ini siswa merasa bahwa dirinya sedang belajar, timbul dalam dirinya motivasi-motivasi untuk memiliki pengetahuan yang diharapkan sehingga tahapan-tahapan dalam belajar sampai pengetahuan itu dimiliki secara permanen (retensi) betul-betul disadari sepenuhnya. (2) hasil belajar diperoleh dengan adanya proses, dalam hal ini pengetahuan diperoleh tidak secara spontanitas, instant, namun bertahap (sequensial). Seorang anak bisa membaca tentu tidak diperoleh hanya dalam waktu sesaat namun berproses cukup lama, kemampuan membaca diawali dengan kemampuan mengeja, mengenal huruf, kata dan kalimat. Seseorang yang tiba-tiba memiliki kecakapan seperti lari dengan kecepatan tinggi karena akibat doping, bukanlah hasil dari kegiatan belajar, namun efek dari obat atau zat kimia yang dikonsumsinya. (3) Belajar membutuhkan interaksi, khususnya interaksi yang sifatnya manusiawi. Seorang siswa akan lebih cepat memiliki pengetahuan karena bantuan dari guru, pelatih ataupun instruktur. Dalam hal ini terjadi komunikasi dua arah antara siswa dan guru.

Kaitannya bahwa belajar membutuhkan interaksi, hal ini menunjukan bahwa proses pembelajaran merupakan proses komunikasi, artinya didalamnya terjadi proses penyampaian pesan dari seseorang (sumber pesan) kepada seseorang atau sekelompok orang (penerima pesan), Kemp (1975:15) menggambarkan proses komunikasi sebagai berikut :


Pesan yang dikirimkan biasanya berupa informasi atau keterangan dari pengirim (sumber) pesan. Pesan tersebut diubah dalam bentuk sandi-sandi atau lambang-lambang seperti kata-kata, bunyi-bunyi, gambar dan sebagainya. Melalui saluran (channel) seperti radio, televisi, OHP, film, pesan diterima oleh si penerima pesan melalui indera (mata dan telinga) untuk diolah, sehingga pesan yang disampaikan oleh penyampai pesan dapat diterima dan dipahami oleh si penerima pesan. Lihatlah gambar di bawah ini :

Berdasarkan gambar di atas menunjukan bahwa komunikasi merupakan sebuah sistem yang didalamnya terdapat beberapa komponen yang terlibat, diantaranya komunikator, komunikan, channel, message, feed back dan noise /barier. Pesan yang disampaikan oleh komunikator diteruskan oleh saluran atau channel sampai ke komunikan sebagai penerima pesa. Dipahami atau tidaknya sebuah pesan oleh komunikan tergantung dari feed back yang diberikan oleh komunikan. Feedback positif menunjukan bahwa pesan dipahami dengan baik, sebaliknya feedback negatif menunjukan pesan mungkin saja tidak dipahami dengan benar. Untuk membantu penyampaian pesan ini diperlukan saluran berupa media pembelajaran. Faktor yang dapat menyebabkan pesan tidak dipahami dengan baik karena adanya noise dan barier atau hambatan dan gangguan, noise ini dapat dialami oleh komunikator, bisa terjadi pada komunikan , pada pesan juga pada channel. Misalnya siswa tidak mengerti apa yang dijelaskan guru karena kondisi perut sedang sakit, berarti gangguan ada pada komunikan, siswa tidak menerima materi dengan jelas karena saat itu sedang ada pembangunan sehingga suasana berisik mengganggu pendengaran, hal ini salurannya yang terganggu. Guru tidak entusias, tidak bergairah dalam mengajar sehingga siswa kurang mengerti apa yang diterangkan gurunya karena guru teresebut sedang ada masalah keluarga, hal ini gangguan pada komunikator.

Selain faktor-faktor tersebut, terdapat juga beberapa faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas sebuah komunikasi, baik faktor yang terjadi pada pengirim maupun pada penerima pesan. Ishak (1995:3) menjelaskan diantaranya :
  1. Kemampuan berkomunikasi penyampai pesan seperti kemampuan bertutur dan berbahasa dan kemampuan menulis. Sedangkan faktor dari penerima pesan diantaranya kemampuan untuk menerima dan menangkap pesan seperti mendengar, melihat, dan menginterpretasikan pesan.
  2. Sikap dan pandangan penyampai pesan kepada penerima pesan dan sebaliknya. Misalnya , rasa benci, pandangan negatif, prasangka, merendahkan satu diantara kedua belah pihak, sehingga akan menimbulkan kurangnya respon terhadap isi psan yang disampaikan.
  3. Tingkat pengetahuan baik penerima maupun penyampai pesan. Sumber pesan yang kurang memahami informasi yang ingin dicapai akan mempengaruhi gaya dan sikap dalam proses penyampai pesan. Sebaliknya, penerima pesan yang kurang mempunyai pengetahuan dan pengalaman terhadap informasi yang disampaikan tidak akan mempu mencerna informasi dengan baik.
  4. Latar belang sosial budaya dan ekonomi penyampai pesan serta penerima pesan. Ketanggapan penerima pesan dalam merespon informasi tergantung dari siapa dan oleh siapa pesan itu disampaikan.


Berdasarkan uraian di atas, jelas tergambar bahwa media merupakan bagian dari proses komunikasi. Baik buruknya sebuah komunikasi ditunjang oleh penggunaan saluran dalam komunikasi tersbut. Saluran / channel yang dimaksud di atas adalah media. Karena pada dasarnya pembelajaran merupakan proses komunikasi, maka media yang dimasuk adalah media pembelajaran.


Bagan di atas menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran itu terdapat pesan-pesan yang harus dikomunikasikan. Pesan tersebut biasanya merupakan isi dari suatu topik pembelajaran. Pesan-pesan tersebut disampaikan oleh guru kepada siswa melalui suatu media dengan menggunakan prosedur pembelajaran tertentu yang disebut metode.
Dalam sistem pembelajaran modern saat ini, siswa tidak hanya berperan sebagai komunikan atau penerima pesan, bisa saja siswa bertindak sebagai komunikator atau penyampai pesan. Dalam kondisi seperti itu, maka terjadi apa yang disebut dengan komunikasi dua arah (two way traffic communication) bahkan komunikasi banyak arah (multi way traffic communication). Dalam bentuk komunikasi pembelajaran manapun sangat dibutuhkan peran media untuk lebih meningkatkan tingkat keefektifan pencapaian tujuan/kompetensi. Artinya, proses pembelajaran tersebut akan terjadi apabila ada komunikasi antara penerima pesan dengan sumber/penyalur pesan lewat media tersebut. Menurut Berlo (1960), komunikasi tersebut akan efektif jika ditandai dengan adanya “area of experience” atau daerah pengalaman yang sama antara penyalur pesan dengan penerima pesan

Selasa, 08 Februari 2011

LOMBA CERDAS CERMAT UUD 1945 DAN PENGAMALAN NILAI NILAI PANCASILA TAHUN 2011



Untuk kedua kalinya MGMP PKn SMP Kabupaten Banyumas mengadakan Lomba Cerdas Cermat UUD 1945 dan Pengamalan Nilai-nilai Pancasila. LCC ini mestinya diadakan diakhir tahun 2010 tetapi baru terealisasi pada 7 Februari 2011. Ada beberapa kendala di akhir tahun sehingga kegiatan LCC ini baru diadakan. Salah satunya adalah Pengurus Kabupaten ingin mencoba mengakomodir keinginan dari rekan rekan guru PKn se Kabupaten Banyumas agar lebih baik.

Beberapa kritik yang membangun dan menambah semangat Kami adalah keinginan agar tidak hanya LCC UUD 1945 saja yang dilakukakan tetapi kegiatan lomba lain yang lebih menantang. Beberapa diantaranya adalah masukan untuk diadakan Lomba Penulisan Karya Ilmiah, Lomba Mengarang, Penelitian dan lomba lain yang lebih menantang. Namun Pengurus menyadari berbagai keterbatasan yang ada baik dari pengurus, sekolah maupun keterbatasan lain. Penting untuk disikapi bersama adalah bahwa kita mau untuk melakukan kegiatan yang sedikit bermanfaat (TALK LESS DO MORE).

Yang perlu disikapi kembali adalah perlunya memberdayakan seluruh rekan rekan yang punya potensi lebih untuk membantu keberhasilan pelaksanaan kegiatan. Salah satunya yang sudah dilakukan pada LCC ini adalah penyusunan Soal melibatkan seluruh Pengurus MGMP PKn Komda sehingga soal lebih baik lagi. Walaupun dalam pelaksanaan penyusunan masih ada beberapa Komda yang melewati dead line yang telah ditetapkan. Bahkan ada yang sampai sekarang belum terkumpul. Namun tidak lantas menimbulkan krisis kepercayaan kepada rekan sendiri.

Walaupun pelaksanaan Lomba tahun ini tidak dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan karena berbagai kesibukan sehingga dilimpahkan kepada Bapak Drs. H. Cipto Waluyo, M.Pd. selaku Kepala Bidang Pendidikan Dasar. Pesan yang sangat menarik dari Pak Cipto kepada Pesrta Lomba adalah”Apakah kalian semua sudah melaksanakan nilai nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari?”. Mestinya kita sebagai guru kena juga dengan pertanyaan itu... Jadi apakah sudah ??????

Terlepas dari itu semua Lomba sudah berakhir dan sebagai Juara Pertama adalah SMP Negeri 1 Sokaraja yang juga merupakan juara bertahan. kemudian disusul SMP Negeri 8 Purwokerto pada peringkat ke-2 dan SMP Negeri 1 Cilongok sebagai Juara ke-3. Hasil selengkapnya bisi di download DISINI. Selamat kepada seluruh Pemenang dan Peserta Lomba.

Terakhir Panitia menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas yang telah merestui kegiatan ini. Yang kedua kepada Pembina MGMP PKn Kabupaten Banyumas dan Pembina MGMP PKn Komda atas dukungannya. Kepada seluruh rekan-rekan guru PKn se Kabupaten Banyumas yang telah bersama-sama mensukseskan acara kita ini. Terima kasih juga kepada Seluruh Sekolah yang sudah mengirimkan delegasinya. Terakhir kepada seluruh Panitia yang sudah mendedikasikan waktu, tenaga, kesempatan, kemampuan, dan semua hal yang telah mensuksekan acara ini. Semoga tahun depan acara ini bisa dilaksanakan lagi. Terima Kasih.



Sabtu, 04 September 2010

Workshop Pengembangan KTSP

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mulai diberlakukan sejak tahun 2006/2007, dan berdasarkan Permendiknas Nomor 24 tahun 2005 mulai tahun 2009/2010 seluruh Sekolah di Kabupaten Banyumas telah melaksanakan KTSP. Dalam rangka pengembangan/penguatan KTSP, MGMP PKn Kabupaten Banyumas bekerjasama dengan Dinas Pendidikan telah melakukan upaya-upaya agar KTSP dapat dipahami dan dilaksanakan oleh sekolah khususnya pada jenjang SMP. Upaya-upaya tersebut antara lain meliputi penyusunan panduan, model silabus dan RPP serta bahan pembelajaran, dan penilaiannya. MGMP PKn Kabupaten Banyumas bekerjasama dengan Dinas Pendidikan juga melakukan pembinaan dan bimbingan dengan sasaran langsung sekolah. Mengingat banyaknya jumlah sekolah yang harus dicakup, maka diperlukan strategi yang efektif dan efisien dalam melakukan pengembangan dan pembinaan implementasi KTSP.

Pembinaan dan bimbingan bersifat memperkuat implementasi KTSP sangat diperlukan mengingat sebagian besar sekolah dalam melaksanakan KTSP masih mengadopsi model-model KTSP yang dikembangkan oleh pusat atau dengan sedikit mengadaptasinya. Kemampuan mengembangkan KTSP sendiri oleh sekolah sangat penting karena secara filosofis KTSP adalah kurikulum yang berbasis sekolah dan mencerminkan kekhususan dari masing-masing sekolah.

Workshop Pengembangan KTSP selain bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sekolah dalam mengembangkan KTSP, juga bertujuan meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan penilaian hasil belajar khususnya yang terkait dengan pengembangan soal-soal standar. Kemampuan Pendidik dalam melaksanakan evaluasi masih perlu ditingkatkan khususnya dalam penyusunan dan pengembangan soal-soal yang berkualitas dan terstandar. Dengan kemampuan mengembangkan soal yang baik maka siswa akan terlatih untuk mengerjakan soal-soal dengan berbagai macam teknik penilaian dan bentuk soal yang bervariasi dan standar.

Oleh karena itu, kegiatan dalam bentuk Workshop Pengembangan/Penguatan KTSP dan Penyusunan Soal Terstandar bagi guru-guru di Kabupaten Banyumas pada tahun 2010 ini sangat perlu dilakukan agar implementasi kurikulum di satuan pendidikan dapat berjalan sesuai harapan.

Workshop Pengembangan/Penguatan KTSP dan Penyusunan Soal Terstandar dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta workshop dalam pengembangan dan implementasi:

1. pendidikan karakter

2. pendidikan berwawasan gender

3. pembelajaran Siswa aktif (Students active learning)

4. KTSP Dokumen I dan II

5. penilaian terstandar.


Workshop Pengembangan/Penguatan KTSP dan Penyusunan Soal Terstandar tingkat kabupaten Banyumas ini dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut :

Hari/Tanggal : Setiap Senin, 27 September, 4 dan 11 Oktober 2010

Waktu : Pukul 07.30 – 16.00 WIB

Tempat : Gedung Gurinda Sarwa Mandala

Dinas Pendidikan Kab. Banyumas

Jl. Perintis Kemerdekaan No. 75 Purwokerto


Untuk informasi pendaftaran dan konfirmasi kehadiran diharapkan kepada semua guru PKn se-kabupaten Banyumas untuk menghubungi masing-masing Ketua Komda atau langsung kepada Pengurus Kabupaten.